Herbarium Kering sebagai Media Pembelajaran IPA: Dari Laboratorium ke Ajang Lomba

Herbarium Kering sebagai Media Pembelajaran IPA: Dari Laboratorium ke Ajang Lomba
Oleh: Any Yofri Nirwati Anin, S.Pd. (Guru IPA & Pengelola Laboratorium SMP Negeri Satu Atap Nefotes)

 

Dalam proses belajar mengajar, media pembelajaran memiliki peran penting untuk menjembatani konsep abstrak agar lebih mudah dipahami siswa. Media pembelajaran tidak hanya terbatas pada buku teks atau papan tulis, tetapi juga bisa berupa objek nyata dari lingkungan sekitar yang dekat dengan kehidupan siswa. Salah satu media sederhana namun efektif yang kami gunakan di SMP Negeri Satu Atap Nefotes adalah herbarium kering. Herbarium memungkinkan siswa belajar langsung dari spesimen tumbuhan nyata, sehingga pembelajaran IPA menjadi lebih kontekstual, menarik, dan bermakna.

 

Selain mencoba berbagai model dan pendekatan pembelajaran yang bervariasi, sebagai guru IPA sekaligus pengelola laboratorium saya selalu berusaha menghadirkan media pembelajaran yang sederhana dan relevan yang bisa membantu saya dalam menciptakan pembelajaran yang berkualitas. Bersama rekan sejawat, Ibu Lili, kami secara rutin membuat herbarium kering dari berbagai tumbuhan di sekitar sekolah. Kegiatan ini awalnya ditujukan untuk membantu siswa mengenal flora lokal serta mengembangkan keterampilan ilmiah mereka, seperti mengamati, mengklasifikasi, dan mendokumentasikan objek biologi.

Pada tanggal 21 Juni 2025, saya mendapatkan informasi dari Kepala Sekolah mengenai adanya Lomba Herbarium Kering tingkat SMP se-Kabupaten Timor Tengah Selatan yang diselenggarakan oleh Institut Pendidikan Soe ( IPS ). Informasi tersebut menjadi titik awal semangat baru bagi kami untuk membawa praktik sederhana di laboratorium ke dalam ajang kompetisi. Bersama siswa, saya mulai melakukan observasi lapangan pada bulan Juli hingga Agustus 2025, mengumpulkan berbagai tumbuhan khas daerah sekitar. Setelah melalui proses pengeringan dan perakitan, kami berhasil menyusun sebuah herbarium bertajuk “Jejak Daun: Potret 12 Flora Timor Tengah Selatan” yang memuat 12 spesimen tumbuhan, di antaranya paku, singkong, sirih, alpukat, ubi jalar, lengkuas, kopi, rumput gajah, jambu biji, lamtoro, kacang arbila, dan kesuari.

Sebagai bentuk dokumentasi dan publikasi karya, pada tanggal 12 Agustus 2025 kami mengunggah video pembuatan herbarium ke YouTube https://www.youtube.com/watch?v=kZEOZkaU1zY. Proses ini tidak hanya menjadi sarana untuk berbagi pengalaman, tetapi juga membiasakan siswa menggunakan media digital sebagai bagian dari pembelajaran abad ke-21. Pada tanggal 23 Agustus 2025, panitia lomba mengumumkan hasil seleksi awal, dan SMP Negeri Satu Atap Nefotes berhasil masuk ke dalam enam besar. Capaian ini memotivasi siswa untuk semakin percaya diri menghadapi tahap selanjutnya.

Tahap final lomba berlangsung pada tanggal 1 September 2025, ketika saya membawa tim herbarium ke Kampus Institut Pendidikan Soe (IPS) untuk melakukan presentasi di hadapan panitia dan dewan juri. Siswa mempresentasikan secara langsung proses pembuatan herbarium, mulai dari pengumpulan bahan, pengeringan, penyusunan, hingga penjelasan tentang manfaat setiap tumbuhan yang digunakan. Meskipun sederhana, mereka mampu tampil dengan penuh semangat dan menguasai materi yang dipresentasikan.

Akhirnya, pada saat pengumuman hasil lomba, tim SMP Negeri Satu Atap Nefotes berhasil meraih Juara 2. Prestasi ini menjadi bukti bahwa kreativitas dan kerja keras mampu melahirkan hasil yang membanggakan meskipun dengan segala keterbatasan fasilitas. Lebih dari itu, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga, baik bagi siswa maupun saya pribadi sebagai guru pembimbing. Saya semakin menyadari bahwa pembelajaran IPA akan lebih bermakna jika dikaitkan dengan lingkungan sekitar. Dengan dukungan sekolah dan kerja sama antar guru, inovasi sederhana seperti herbarium kering dapat menjadi media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membuka peluang prestasi bagi siswa.