Tiga Kilo Meter Perjuangan Menuju Sekolah

"Tiga Kilo Meter Perjuangan Menuju Sekolah"

Halo perkenalkan nama lengkap saya Gloria Stefanya Tapatab. Teman -teman saya biasanya memanggil saya dengan sebutan Iting. Entahlah, mungkin karena saya berambut keriting sehingga saya dipanggil dengan nama tersebut tetapi saya tidak berkeberatan dan senang dengan panggilan itu. Saya tinggal di Nunutapi yang berlokasi di Desa Bijaepunu. Saya merupakan seorang siswi kelas IXa yang bersekolah di SMP Negeri Satu Atap Nefotes. Setiap hari saya berjalan kaki sejauh kurang lebih 3 kilometer menuju sekolah. Perjalanan ini biasanya memakan waktu 30 menit karena rute sekitar yang saya lalui sangat menanjak dan melelahkan untuk sampai di sekolah. Jalan yang saya lalui tiap hari bukanlah sebuah jalan yang beraspal tapi tanah. Saat musim panas debu dijalanan begitu banyak dan berserakan dijalanan, saat pulang sekolah angin kencang meniupkan debu dan berterbangan kemana-mana. Saat musim hujan tiba, jalanan akan dipenuhi lumpur yang membuat saya harus berhati-hati agar lumpur tidak mengotori sepatu saya. Namun apalah daya, sepatu saya tetap kotor dan saya harus tetap membersihkan sepatu setiap pulang sekolah.

Walaupun banyak tantangan yang saya hadapi ketika bersekolah, semangat juang saya dalam bersekolah tidak pernah surut. Debu, angin ataupun lumpur yang saya hadapi setiap hari bukanlah alasan yang berarti untuk menyerah. Ada satu pesan dari kedua orang tua saya yang selalu saya ingat terus dalam hati saya. ”Musim angin, debu, hujan dan lumpur akan datang silih berganti tapi jikalau kamu ketinggalan pendidikan dan pelajaran maka kamu hanya akan menyebabkan penurunan dan tidak mempunyai masa depan yang baik”. Dari perkataan yang selalu disampaikan oleh kedua orang tua saya membuat saya sadar bahwa pendidikan itu sangat penting bagi masa depan saya.

Suatu hari saat sesampainya saya di sekolah, saya melihat teman-teman laki-laki tidak mengenakan pakaian selayaknya anak sekolah. Mereka tidak menyisipkan baju ke dalam celana dan mulai canggung seperti anak yang tidak beretika. Mereka sering bolos, tidak mencatat setiap catatan yang diberikan guru dan bahkan ada yang berani melawan guru kecuali kepada beberapa guru tegas yang membuat mereka segan. Saat guru memberikan kami tugas yang dikerjakan secara berkelompok, mereka dengan cepat memilih siswa-siswa yang pintar. Memang hal tersebut baik dan benar serta tidak bisa disalahkan tetapi mereka tidak mengikuti diskusi kelompok dengan baik. Mereka hanya mengganggu siswa yang lain, ribut tidak jelas dan bahkan membuat onar sehingga mengganggu kami yang lain. Tapi ketika guru bertanya, ” dimana tugas kalian”? Maka mereka akan menjawab dengan percaya diri, bangga bahkan terkesan sombong bahwa tugas mereka ada disini. Seolah-olah mereka ingin membuktikan kepada guru bahwa mereka telah mengerjakan tugas dalam kelompok diskusi. Padahal saat mengerjakan tugas tersebut, mereka akan menipu siswa lain dengan berbagai macam rayuan yang diakhiri dengan ”Kawan kerja kasih kita e”. Dengan polosnya, siswa mengiyakan untuk mengerjakan tugas dari guru dengan sedikit jengkel dan menyesal karena berada dalam 1 kelompok dengan mereka.

Saya terkadang bertanya-tanya dalam hati saya tentang teman-teman saya ini. Apakah sekolah penting bagi mereka? Apakah ilmu pengetahuan dan pendidikan yang sedang mereka jalani ini merupakan candaan atau permainan semata? Apakah keluarga dan orang tua mereka mengetahui perbuatan mereka di sekolah? Dan tujuan mereka bersekolah untuk apa kalau hanya untuk membuat keonaran, bolos sekolah maka mereka tidak sekolah. Apakah mereka tidak mencintai orangtua mereka yang setiap hari pontang-panting mencari uang untuk membeli makan minum dan segala perlengkapan sekolah mereka? Seharusnya kita sebagai anak-anak sekolah memiliki semangat dan rajin belajar agar bisa membahagiakan orang tua. Seharusnya kita terkenal di sekolah sebagai siswa yang berprestasi, bukan malah siswa nakal yang sering membuat onar. Tapi saya juga menyadari bahwa teman-teman saya tersebut tidak boleh direndahkan karena jalan hidup setiap orang sudah digariskan oleh Tuhan dan proses untuk mencapai cita-cita dari setiap orang itu berbeda. Terima Kasih.. Tuhan Yesus sayang kita semua.