Dibalik Teguran Keras Ada Kasih Sayang
- Resti Anika Kebo
- 08 September 2025
- 531
“Dibalik teguran keras ada kasih sayang”
“Dibalik teguran keras ada kasih sayang”
Nama Saya Resti Anika Kebo yang akrap disapa Resti. Saya tinggal di sebuah dusun kecil bernama Besnake  di desa Bijaepunu. Saya merupakan salah satu siswa kelas IX A yang bersekolah di SMPN SATAP NEFOTES, sekolah kecil yang berada di daerah yang cukup jauh dari keramaian kota. Setiap hari saya berjalan kaki sejauh 5 km dari rumah ke sekolah. Jalan yang biasa saya tempuh bukan aspal, tapi tanah yang kadang licin saat hujan dan penuh debu saat musim panas. Tapi bagi saya, itu bukan halangan yang berat untuk pergi ke sekolah setiap hari.
Selain merupakan satu-satunya sekolah negeri yang ada di desa kami, SMPN Satu Atap Nefotes juga mudah dijangkau serta bisa ditempuh. Oleh karena itu, pada kesempatan kali ini saya akan bercerita tentang kisah perjalanan saya bersekolah di SMPN Satap Nefotes dari awal masuk di kelas VII sampai di kelas IX saat ini dan memiliki ibu wali kelas yang sangat kami cintai.
Setelah melakukan pendaftaran, saya dan teman-teman sebanyak 60 orang siswa baru mengikuti MOS ( Masa Orientasi Siswa ). Banyak materi yang disampaikan oleh guru-guru di sekolah seperti tata krama, pengenalan lingkungan sekolah, tata tertib sekolah, wawasan wiyata mandala, bahaya minuman keras, bahaya narkoba dan lain sebagainya. Saya dan semua teman mengikutinya dengan senang hati dan penuh semangat karena banyak diselingi dengan ICE BREAKING yang diberikan oleh guru-guru kami sehingga kami tidak cepat merasa bosan.
Pada hari ke-3 setelah pelaksanaan MOS, kami dibagi kedalam dua kelas yaitu kelas VIIa dan kelas VIIb dengan jumlah siswa 30 orang per kelas. Saya terpilih masuk di kelas VIIa dengan wali kelas kami yaitu Ibu Ety M.F. Tse, S.Pd. Saya sebenarnya tidak mengenal ibu Ety sebelumnya, namun setelah itu saya baru mengetahui bahwa kami masih memiliki hubungan keluarga ( Saya panggil tanta ) tapi kalau di sekolah saya tetap menghargai sebagai ibu guru. Ketika kami semua disuruh untuk berkumpul sesuai dengan kelas kami masing-masing, ibu Ety masuk ke kelas kami dan meminta kami semua untuk saling memperkenalkan diri kami masing-masing di depan kelas. Saya cukup senang karena teman baik saya semasa SD bernama Putri Tafuy ada bersama dengan saya dalam satu kelas dan saya juga mendapatkan seorang teman baru yang bernama Iting Tapatab. Kami semua senang karena Selain kegiatan belajar mengajar, di sekolah ada juga berbagai kegiatan extrakurikuler lainnya seperti; tarian kreasi, tarian giring-giring, bonet, natoni, cerita rakyat yang biasanya dilaksanakan pada hari sabtu.
Ibu Ety merupakan panutan bagi kami di kelas. Dia adalah wali kelas yang tegas namun penuh kasih. Setiap pagi, ibu Ety adalah orang pertama yang datang ke kelas, memastikan semua siswa hadir, berpakaian rapi, dan siap mengikuti pelajaran. Tidak ada toleransi untuk keterlambatan, tidak ada alasan untuk kemalasan. Tapi di balik sikap tegas itu, kami tahu bahwa beliau mendidik kami karena beliau peduli. Hal yang membuat Ibu Ety istimewa bukan hanya soal disiplin. Beliau adalah sosok yang selalu memulai hari dengan doa, dan mengajak kami untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam segala hal. “Belajar itu penting, tapi jangan lupa berdoa,” katanya. Kalimat sederhana, tapi begitu membekas di hati kami. Setiap ada murid yang terlihat sedih, malas, atau kehilangan semangat, Ibu Ety tidak pernah marah. Beliau justru mengajak bicara baik-baik, memberi nasihat dengan sabar. Nasihat beliau tidak terasa seperti ceramah, tapi seperti pelukan hangat dari seorang ibu.
Pada saat kami mulai memasuki semester dua, suasana kelas mulai terasa berbeda. Beberapa teman laki-laki kami mulai terpengaruh oleh kakak-kakak kelas VIII dan IX. Mereka bukan hanya sekadar mengikuti gaya berbicara atau cara berpakaian yang lebih “gaul”, tapi juga mulai terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan yang kurang baik. Awalnya, mereka hanya terlihat kurang serius dalam mengikuti pelajaran. Tapi lama-kelamaan, mereka mulai berani bolos kelas, tidak ikut apel pagi dan siang, bahkan kadang-kadang tidak masuk sekolah tanpa alasan yang jelas. Kami yang melihat perubahan itu hanya bisa saling menatap dan bertanya-tanya dalam hati. Ada rasa khawatir, tapi juga takut untuk menegur. Kami masih terlalu diam, belum berani bersuara. Kami hanya murid kelas VII yang baru belajar menyesuaikan diri.
Suatu hari, dua orang teman kami yakni Tomsi dan Samri kedapatan membuat masalah yang cukup serius. Entah bagaimana kejadiannya, mereka berdua dipanggil ke kantor guru. Wajah mereka terlihat tegang saat keluar dari kelas, dan semakin murung saat kembali. Ternyata, mereka sudah mendapat teguran keras dari beberapa guru, dan bahkan ancaman untuk dikeluarkan dari sekolah jika terus mengulangi kesalahan. Kami semua kaget dan suasana kelas yang biasanya ramai jadi sunyi. Tidak ada yang berani bercanda berlebihan. Semua jadi lebih tenang. Kami merasa, inilah saatnya untuk mulai berubah dan di situlah Ibu Ety mulai mengambil perannya dengan cara yang sangat lembut sebagai wali kelas kami. Ibu Ety tidak langsung marah-marah atau menunjuk satu per satu yang bermasalah. Sebaliknya, beliau mengajak kami bicara dari hati ke hati.
“Saya tahu, kalian sedang mencari jati diri. Saya juga pernah seusia kalian, tapi saat ini kalian berdua mau berubah atau tidak?” tanya beliau kepada ke dua orang teman kami. Awalnya mereka berdua terdiam namun akhirnya menjawab  “ mau ibu ”. Apakah kalian berjanji? Kalian berdua berjanji dengan siapa? Ibu Ety bertanya lagi dan mereka menjawab  “ Kami berjanji kepada diri kami dan Tuhan ”. Jawab mereka. Sesudah itu, kami diberikan nasihat oleh Ibu untuk tidak mengulangi lagi perbuatan kami. Setelah itu kamipun berdoa bersama yang dipimpin oleh Ibu Ety.
Saat ini kami sudah berada di kelas IX, kami yang awalnya berjumlah 30 orang kini menjadi 27. Ada 2 orang teman kami yang sudah mengundurkan diri tidak mau sekolah lagi dan 1 teman kami sudah meninggal dunia. Ibu Ety masih menjadi wali kelas kami, masih mengajar mata pelajaran PKn dan Agama Kristen dan masih sering menasehati kami tanpa henti untuk terus rajin belajar dan bersekolah. Saya dan teman-teman semua percaya bahwa setiap teguran yang keras dari wali kelas kami adalah bentuk kasih sayang tanpa batas kepada kami anak walinya. Tuhan Yesus sayang kita semua. Â

