Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match Dalam Pembelajaran Ips
- Yudit A.F. Rea, S.Pd
- 06 September 2025
- 701
Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match dalam pembelajaran IPS
Penggunaan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Make A Match dalam pembelajaran IPS
Yudit A. F. Rea, S.Pd
Guru Mata Pelajaran IPS di SMP N Satu Atap Nefotes
Pendidikan merupakan suatu usaha di dalam diri sebagai jembatan untuk mencapai kesuksesan, oleh karena itu untuk mencapai pendidikan tersebut diperlukan proses belajar-mengajar yang kompleks. Supaya kegiatan belajar terasa lebih hidup dan tidak membosankan bagi peserta didik, maka diperlukan pendekatan, metode, serta penggunaan model pembelajaran yang beragam dan bervatiasi agar pengalaman belajar menjadi lebih seru dan menggugah minat mereka. Dalam mewujudkan proses pembelajaran interaktif dan menghindari jenuhnya pada peserta didik tentunya penggunaan strategi pembelajaran dan model serta media pembelajaran bervariasi diperlukan agar lebih memikat peserta didik.
Kegiatan pengajaran wajib berlangsung secara kondusif guna mendukung terciptanya komunikasi yang efektif antara pendidik, peserta didik, serta komponen pengajaran lainnya. Elemen-elemen tersebut meliputi tujuan pembelajaran, materi ajar, metode pengajaran, dan evaluasi. Oleh karena itu, guru perlu mempertimbangkan elemen-elemen tersebut secara cermat dalam menentukan atau memilih media, metode, strategi/model, serta pendekatan yang paling sesuai untuk diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan salah satu komponen diatas, bahwa pemilihan strategi ataupun model pembelajaran akan mempengaruhi aktivitas peserta didik.
Model pembelajaran memiliki peranan krusial dalam mendukung efektivitas proses pembelajaran di dalam kelas. Model ini berfungsi sebagai pendekatan strategis yang dirancang oleh pendidik guna mencapai tujuan pengajaran. Joyce dan Weil (1980) mengemukakan model pembelajaran adalah rancangan atau model sistematis yang dapat dimanfaatkan dalam penyusunan kurikulum (perencanaan pembelajaran jangka panjang), pengembangan materi ajar, serta pengelolaan kegiatan pembelajaran baik di dalam kelas maupun luar kelas.
Pendidik dituntut untuk menunjukkan kreativitas dalam merancang kegiatan pembelajaran yang efektif, dengan menitikberatkan pada partisipasi aktif peserta didik selama proses belajar berlangsung di kelas. Untuk menciptakan pembelajaran secara efisien, dibutuhkan lingkungan yang kondusif agar interaksi antara pendidik, peserta didik, serta komponen lain dalam proses pembelajaran dapat terlaksana secara benar. Dalam merancang kegiatan belajar, guru perlu menyesuaikan semua aspek tersebut guna memilih media, strategi, model dan metode serta pendekatan yang paling tepat untuk diterapkan.
Melalui berbagi praktik baik dalam komunitas belajar ’ Guru Turun Dusun ” yang dilakukan pada 30 Agustus 2025, guru yang mengajar mata pelajaran IPS mengungkapkan bahwa pendekatan pembelajaran di kelas masih bersifat konvensional. Penyajian materi lebih banyak berpusat pada peran guru sebagai sumber utama, sementara peserta didik tidak selalu terlibat langsung pada saat pembelajaran. Model pembelajaran yang diterapkan di SMP Negeri Satu Atap Nefotes awalnya masih menggunakan metode ceramah dan belum menggembangkan model-model pembelajaran lainnya, kondisi ini terjadi akibat terbatasnya akses internet dan alat pendukung pembelajaran. Karena itu salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan, mudah diterapkan dan dapat dibuat tanpa menggunakan akses internet yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Make A Match.
Model pembelajaran make a match (mencari pasangan kartu) pertama kali dikembangkan oleh Lorn Curran pada tahun 1994. Model pembelajaran kooperatif tipe make a match adalah sebuah metode pembelajaran di mana peserta didik secara aktif mencari pasangan kartu yang berisi soal dan jawaban yang sesuai untuk mempelajari suatu konsep atau topik tertentu dalam suasana yang menyenangkan. Melalui model ini, peserta didik bekerja sama, berbagi ide, dan berkompetisi untuk menemukan kecocokan kartu, yang dapat meningkatkan keaktifan dan hasil belajar peserta didik.
Adapun langkah–langkah dalam proses pelaksanaan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Make A Match sebagai berikut :
- Persiapan kartu
Guru menyiapkan kartu yang berisi beberapa konsep yang cocok untuk sesi review, salah satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
- Pembagian kartu
Kartu-kartu tersebut kemudian dikocok dan dibagikan kepada setiap peserta didik, di mana setiap peserta didik hanya mendapatkan satu kartu.
- Mencari pasangan
Peserta didik memikirkan soal atau jawaban dari kartu yang dipegang , kemudian mencari pasangan kartu yang sesuai dengan kartu yang di pegang.
- Mencocokan kartu
Pasangan yang berhasil menemukan kartu yang cocok, kemudian berdiskusi terkait kartu yang didapat untuk memastikan apakah kartu tersebut sudah cocok atau belum.
- Presentasi dan klarifikasi
Pasangan yang berhasil menemukan kartu yang cocok, Langsung membacakan pertanyaan dan jawabannya, kemudian guru memberikan klarifikasi, penguatan, dan kesimpulan.
Berdasarkan kegitan belajar mengajar di kelas,guru mendapatkan hasil yang cukup baik.Walaupun demikian,setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.begitu juga dengan model pembelajaran make a match.
Berikut ini adalah kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran make a match yang didapati oleh guru dalam penerapannya.
Kelebihan model make a match
- Menigkatkan aktivitas dan keterlibatan peserta didik
- Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan
- Meningkatkan motivasi belajar peserta didik
- Menigkatkan kerja sama peserta didik
- Mengembangkan keberanian peserta didik
Kekurangan model make a match
- Perlu persiapan yang matang
- Suasana kelas menjadi gaduh
- Memerlukan bimbingan guru
- Potensi rasa malu
Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangan yang ada, maka model pembelajaran make a match sangat efektif dalam menigkatkan semangat, keberanian dan rasa percaya diri pada peserta didik dalam setiap pembelajaran di kelas.

