Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi  dan Model Jigsaw di Kelas IPA

Penerapan Pembelajaran Berdiferensiasi  dan Model Jigsaw di Kelas IPA

 

Oleh : Yatty L. Fallo,S.Pd

Guru IPA SMP Negeri Satu Atap Nefotes

 

Di tengah tuntutan kurikulum yang semakin kompleks dan keberagaman kemampuan siswa di dalam kelas, para pendidik terus mencari strategi pembelajaran yang efektif. Kita semua pasti setuju bahwa setiap kelas yang kita masuki adalah sebuah ekosistem yang unik. Di dalamnya ada siswa dengan gaya belajar yang berbeda - beda ada si visual, si auditori, dan si kinestetik. Ada siswa dengan tingkat pemahaman yang beragam, ada yang cepat tanggap, ada yang butuh bimbingan lebih dan  tentu saja, ada siswa dengan minat yang berbeda-beda.

 

Salah satu pendekatan yang menjanjikan adalah model pembelajaran berdiferensiasi, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap siswa. Ketika dikombinasikan dengan metode kooperatif seperti tipe Jigsaw, model ini tidak hanya mengakomodasi perbedaan siswa tetapi juga mendorong kolaborasi dan pemahaman yang mendalam, terutama pada mata pelajaran IPA yang sarat akan konsep seperti materi Sel sebagai Unit Terkecil Makhluk Hidup.

Para ahli pendidikan, seperti Carol Ann Tomlinson, menekankan bahwa pembelajaran berdiferensiasi adalah sebuah filosofi mengajar yang didasarkan pada premis bahwa siswa belajar dengan cara terbaik ketika guru menyesuaikan pembelajaran dengan kesiapan, minat, dan profil belajar mereka. Pendekatan ini menolak model pengajaran "satu untuk semua" dan sebaliknya, menciptakan lingkungan belajar yang fleksibel dan responsif. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, guru secara proaktif merencanakan berbagai pendekatan terhadap konten (apa yang dipelajari siswa), proses (bagaimana siswa memahami materi), dan produk (bagaimana siswa menunjukkan apa yang telah mereka pelajari). Tujuannya adalah untuk meningkatkan keterlibatan aktif siswa dan pemahaman mereka terhadap materi, serta membangun keterampilan kolaborasi dan tanggung jawab belajar mereka. Bagi guru sendiri,  selain sebagai ajang untuk mengasah kompetensi, guru juga bisa merancang pembelajaran yang menarik, berkualitas dan berpusat pada siswa dengan penggunaan model, metode, strategi pembelajaran yang relevan. Selain itu, salah satu model pembelajaran yang sering digunakan oleh guru untuk meningkatkan tingkat pemahaman dari setiap siswa adalah model pembelajaran cooperative learning tipe jiqsaw. Model pembelajaran yang pertama kali dikembangkan oleh Elliot Aronson pada tahun 1971 ini adalah sebuah teknik pembelajaran kooperatif yang mendorong siswa untuk saling bergantung satu sama lain dalam mempelajari materi. Seorang pakar pendidikan kota Surabaya Anita Lie juga mendefinisikan Jigsaw sebagai model di mana setiap siswa bertanggung jawab untuk menguasai satu bagian dari materi pelajaran dan kemudian mengajarkannya kepada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari teman-temannya. Hal ini menciptakan suasana ketergantungan positif di mana keberhasilan individu bergantung pada keberhasilan kelompok.

Dalam praktiknya, penerapan model pembelajaran Jigsaw dipelajaran IPA khususnya materi sel sebagai unit terkecil makhluk hidup dilakukan dengan pembentukan kelompok asal. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil yang heterogen (terdiri dari berbagai tingkat kemampuan, minat, dan gaya belajar). Pembagian materi pelajaran dipecah menjadi beberapa sub-topik. Jumlah sub-topik sama dengan jumlah anggota dalam setiap kelompok asal. Setiap anggota dari kelompok asal mendapatkan satu sub-topik untuk dipelajari. Siswa dari kelompok asal yang berbeda yang mendapatkan sub-topik yang sama kemudian berkumpul dalam "kelompok ahli" untuk mendiskusikan dan mendalami materi mereka. Di dalam kelompok ahli, para siswa berdiskusi untuk memastikan pemahaman yang mendalam tentang sub-topik mereka. Mereka menjadi "ahli" dalam materi tersebut. Setelah diskusi di kelompok ahli selesai, setiap siswa kembali ke kelompok asalnya. Di dalam kelompok asal, setiap "ahli" sekarang bertanggung jawab untuk mengajarkan sub-topik yang telah mereka kuasai kepada anggota kelompoknya yang lain, terjadi peer teaching atau tutor sebaya yang efektif. Terakhir, guru memberikan setiap kelompok mengerjakan produk akhir yaitu mengerjakan soal-soal pada Lkpd bersama-sama dalam kelompok asal ( jigsaw ) untuk mengukur pemahaman siswa terhadap keseluruhan materi. Hasil yang diperoleh setiap kelompok menunjukkan pemahaman mereka dengan cara yang paling mereka kuasai dan minati.

Penerapan model Jigsaw dalam proses belajar mengajar IPA khususnya materi sel sebagai unit terkecil makhluk hidup menawarkan berbagai manfaat yaitu setiap siswa memiliki peran penting sebagai "ahli" yang harus dipenuhi, siswa belajar untuk bekerja sama, mendengarkan, dan menjelaskan konsep kepada orang lain. Kelebihan lainnya siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar, bukan hanya menjadi penerima informasi yang pasif. Dengan mengajarkan materi kepada orang lain, pemahaman siswa terhadap konsep tersebut menjadi lebih kuat dan mendalam. Siswa belajar untuk menghargai partisipasi setiap anggota kelompok. Selain itu, yang juga bisa menjadi kelemahan dalam penerapan model ini. Jika guru tidak mengingatkan agar siswa selalu menggunakan ketrampilan kooperatif dalam kelompok masing-masing maka dikhawatirkan kelompok akan macet dalam pelaksanaan diskusi. Jika anggota kelompoknya kurang akan menimbulkan masalah dan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Kesimpulan dari penerapan kedua model pembelajaran ini yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan model Jigsaw sangat efektif untuk mengakomodasi keberagaman siswa dan meningkatkan keterlibatan mereka dalam setiap pembelajaran di kelas. Penerapan ini secara langsung mendorong para guru untuk mengembangkan keempat kompetensi guru secara terintegrasi, profesional dalam merancang, pedagogik dalam memfasilitasi, sosial dalam berkolaborasi, dan kepribadian dalam berefleksi. Dengan perencanaan yang matang dan fasilitasi yang efektif dari guru, kolaborasi keduanya dapat menjadi salah satu strategi andalan untuk menciptakan pengalaman belajar IPA yang bermakna dan menyenangkan. Sebagai tindak lanjut untuk menerapkan model ini pada topik-topik lain dan terus belajar dan mencoba model-model pembelajaran inovatif lainnya.

 

 

 

Â